Kamis, 11 November 2010

jalur gempa bumi di indonesia

2 Jalur utama gempa bumi melewati Indonesia

Juni 28th, 2009 | 03:46
Ditinjau secara geografis, Indonesia berada pada perbenturan tiga lempeng kerak bumi yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng India-Australia. Sementara secara geologis, wilayah Indonesia berada pada pertemuan 2 jalur gempa utama yaitu gempa sirkum pasifik dan jalur gempa Alpide Transiatic.
Hal itu dikatakan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto saat jumpa pers dengan wartawan seusai peresmian satelit aktif Global Positioning System /Global Navigations Satelite System di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geodesi UGM Sabtu (27/6). Akibat kondisi tersebut menurut Menteri, pergerakan-pergerakan dari aktivitas gunung api dan gempa bumi merupakan kejadian yang sangat sering terjadi dan tidak boleh lepas dari perhatian. Posisi infrastruktur utama seperti bendungan, jembatan, gedung-gedung tinggi, pelabuhan udara, pelabuhan laut dll perlu mendapat pemantauan secara intensif agar fungsi dan infrastruktur tersebut dapat dipertahankan.
Djoko Kirmanto menerangkan, salah satu contoh adanya pergerakan permukaan tanah aktif yakni adanya patahan Barbis yang berada di jalur utara Jawa Barat yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi kestabilan beberapa infrastruktur. Aktifitas patahan tersebut, kata dia, perlu diamati secara teliti dan dipastikan tidak mempengaruhi keberadaan bendungan Darma dan Bendungan Jatigede yang sedang dibangun.
Pergerakan tubuh bendungan dapat mengakibatkan kerawanan terhadap keamanan bendungan tersebut. Apabila posisi dari komponen bendungan seperti pelimpah, tubuh bendungan, bangunan pengambilan dll dapat dipantau secara terus menerus maka keamanan bendungan dilihat dari sisi stabilitas akan dapat diketahui. Jika terjadi pergeseran bagian bendungan yang mengkhawatirkan keamanannya, secara sistematis dapat diambil langkah pencegahan kerusakan.
Terkait dengan Waduk Jatigede yang akan direncanakan proses penggenangan pada tahun 2013i, Djoko Kirmanto mengatakan akan timbul pembebanan air terhadap lapisan batuan yang ada di bawahnya. Pengisian bendungan menurut pengalaman di beberapa negara dapat menimbulkan induksi kegempaan. Namun masyarakat tidak perlu khawatir meski harus tetap waspada dari awal dan perlu dikaji keberadaan bendungan tersebut terhadap kemungkinan yang dapat timbul pada tubuh bendungan, daerah genangan maupun lingkungan geologi yang ada di sekitarnya.
Metode pemantauan dengan menggunakan stasiun aktif Global Positionong System/Global Navigation Satelite System sangat diperlukan dalam rangka pengawasan terhadap indikasi munculnya induksi kegempaan,” kata Menteri PU Djoko Kirmanto. (The Real Jogja/joe)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar